SERI Malaysia di Sirkuit Sepang menyeruakkan satu cerita lain dari ajang Moto GP tahun ini. Cerita soal perkawanan yang dibalut oleh nasionalisme. Satu cerita baru tentunya, sebab dari tahun ke tahun, Moto GP adalah adu cepat antar pebalap dan adu gengsi pabrikan. Yamaha, Honda, Ducati, Kawasaki, Aprilia, dan yang kembali lagi setelah lama absen, Suzuki. Tahun ini berbeda. Pabrikan masih sama. Pebalap-pebalap papan atas juga masih sama. Ada pemegang gelar juara dunia Marc Marquez dan rekan satu timnya Dani Pedrosa, duo Yamaha Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi, duet Ducati Andrea Iannone dan Andrea Dovizioso, serta para kuda hitam macam Danilo Petrucci, Cal Crutchlow, Stefan Bradl, Bradley Smith, atau dua jago Suzuki, Aleix Espargaro dan Maverick Vinales Hingga Seri Australia di Philip Island, tiga posisi teratas berturut-turut ditempati Rossi, Lorenzo, dan Marquez. Namun hanya Rossi dan Lorenzo yang berpeluang menjadi juara dunia. Jika saja situasi ini terjadi di Formula One, maka boleh dikata kompetisi sudah selesai. Mau apa lagi. Selain satu dari dua pebalapnya bakal menjadi juara dunia, Movistar Yamaha telah dipastikan menjadi juara dunia dan Yamaha untuk kali pertama dalam tiga tahun terakhir berhasil mempecundangi Honda. Tim tinggal âmemerintahkanâ Lorenzo untuk âmengalahâ pada Rossi yang berada di peringkat lebih baik, The Team Order Rule. Meski barangkali mendongkol setengah mati, pebalap harus mematuhinya. Akan tetapi MotoGP berbeda dari Formula One. MotoGP tak mengenal istilah team order. Di sini, tim membebaskan pebalap-pebalapnya saling bersaing satu sama lain. Kebijakan yang di satu sisi membuat MotoGP secara keseluruhan berjalan lebih menarik, namun di lain sisi seringkali menimbulkan masalah. Bahkan masalah besar, seperti yang terjadi pada Movistar Yamaha sekarang. Usai Philip Island, Rossi dan Lorenzo dipisahkan jarak 11 poin. Setelah Sepang, margin menyusut menjadi 7, dan tersisa satu laga. Anda tentu sudah bisa membayangkan seperti apa panasnya atmosfer di anatara mereka berdua. GP pamungkas di Valencia dipastikan menjadi pertempuran tersengit. Bukan semata karena Lorenzo akan mengerahkan segenap kemampuan untuk melesat sejauh mungkin dari Rossi, sebaliknya Rossi bakal menjara jarak. Tak perlu menang. Ia akan menjadi juara dunia apabila berhasil menyentuh garis finish satu strip di belakang Lorenzo, di posisi berapapun itu. Persoalannya adalah, itu sungguh tak mudah. Sebab ada Marquez dan Pedrosa di antara mereka. Apa pasal? Bukankah keduanya sudah kehilangan peluang untuk bersaing memperebutkan gelar juara dunia? Bukankah Honda juga sudah digaransi finish ke dua di klasemen konstruktor? Apa lagi yang mereka buru? Di sinilah letak persoalannya. Dalam press conference jelang sesi kualifikasi GP Malaysia, Velentino Rossi menuding adanya konspirasi untuk menghalanginya menjadi juara dunia. Rossi menyebutnya sebagai Konspirasi Spanyol. Pebalap-pebalap Spanyol, diam-diam, bekerjasama untuk melapangkan jalan bagi Jorge Lorenzo. âSemula saya tidak mempercayainya. Ini MotoGP. Di sini kita beradu cepat dengan sportif. Tapi belakangan saya mulai menemukan pembenaran dari dugaan tersebut. Ada banyak orang Spanyol di sini, dan mereka lebih ingin Jorge jadi juara,â ucap Rossi. Sekilas pintas, ucapan Rossi terdengar kekanak-kanakan. Bahkan jika direntangkan lebih jauh, justru Rossi yang telah bertindak tak sportif dan tak profesional dengan mengemukakan dugaan yang belum tentu benar. Bahwa di Jepang dan Australia Marquez dan Pedrosa bergantian menjadi âpenjegalâ Rossi, hal itu tetap tak bisa dijadikan acuan.
--
This message has been scanned for viruses and dangerous content by
E.F.A. Project, and is believed to be clean.
EmoticonEmoticon